Motivasi Leadership

Leadership is a matter of intelligence, trustworthiness, humaneness, courage, and discipline . When one has all five virtues together, each appropriate to its function, then one can be a leader… Kepemimpinan adalah gabungan unsur-unsur kecerdasan, sifat amanah (dapat dipercaya), rasa kemanusiaan, keberanian, serta disiplin. Hanya ketika seseorang memiliki kelima unsur ini menjadi satu dalam dirinya, masing-masing dalam porsi yang tepat, baru dia layak dan bisa menjadi seorang pemimpin sejati. (Sun Tzu )

Motivasi Bisnis

Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa mengupayakan pelayanan yang terbaik. Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang baik, maka andalah yang akan dicari uang. (Anonim)

Motivasi Cinta

Love isn't a shop where everybody can enter to it for some shopping Cinta itu bukanlah sebuah toko dimana setiap orang dapat masuk untuk membelinya (Anonim)

Motivasi Persahabatan

Teman itu seperti bintang Tak selalu nampak Tapi selalu ada dihati… Sahabat akan selalu menghampiri ketika seluruh dunia menjauh Karena persahabatan itu seperti tangan dengan mata Saat tangan terluka, mata menangis Saat mata menangis, tangan menghapusnya (Anonim)

Motivasi Sedekah

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas, Maha mengetahui. (QS. AL-BAQARAH Ayat 261)

Jumat, 21 Juni 2013

Berapa Harga Waktu Ayah ?

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta
terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak
seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua
SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.”Kok,
belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang
sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat
ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab,
“Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10
jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25
hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,
sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi
beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari
mengikutinya.
“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu
jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.
Tetapi Imron tak beranjak.
Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya,
“Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam
begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”
“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.
“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun
berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya
sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di
tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,
“Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang
malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp
5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”
“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”
“Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.
“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga
puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat
berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp
15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-,
maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-.
Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos. Rudi terdiam. Ia
kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.
Saya tidak tahu apakah kisah di atas fiktif atau kisah nyata. Tapi saya
tahu kebanyakan anak-anak orang kantoran maupun wirausahawan saat ini
memang merindukan saat-saat bercengkerama dengan orang tua mereka. Saat
dimana mereka tidak merasa “disingkirkan” dan diserahkan kepada suster,
pembantu atau sopir.
Mereka tidak butuh uang yang lebih banyak. Mereka ingin lebih dari itu.
Mereka ingin merasakan sentuhan kasih-sayang Ayah dan Ibunya. Apakah
hal ini berlebihan?
Sebagian besar wanita karier yang nampaknya menikmati emansipasi-nya,
diam-diam menangis dalam hati ketika anak-anak mereka lebih dekat
dengan suster, supir, dan pembantu daripada ibu kandung mereka sendiri.
Seorang wanita muda yang menduduki posisi asisten manajer sebuah bank
swasta, menangis pilu ketika menceritakan bagaimana anaknya yang sakit
demam tinggi tak mau dipeluk ibunya, tetapi berteriak-teriak memanggil
nama pembantu mereka yang sedang mudik lebaran.
Anak yang shalih adalah salah satu bentuk investasi akhirat kita.

Belenggu Nafsu Manusia

Ada seorang pencari spiritual yang menempa diri menahan nafsu,
bersiap-siap meninggalkan desa tempat tinggalnya, pergi ke gunung yang
tidak berpenghuni untuk mengasingkan diri bermeditasi. Dia hanya
membawa sepotong kain sebagai pakaian, lalu sendirian pergi ke gunung
dan menetap di sana. Kemudian terlintas dalam benaknya saat ia ingin
mencuci pakaiannya, dia perlu sepotong kain lain sebagai pengganti,
lalu dia turun gunung menuju desa, dan minta sedekah sepotong kain
sebagai pakaian pengganti kepada orang-orang desa, semua orang desa
mengetahui dia adalah seorang yang jujur dan taat, lalu tanpa
ragu-ragu memberikannya sepotong kain

Ketika ia kembali ke gunung, dia menyadari bahwa di dalam pondok yang
ditempatinya ada seekor tikus, sering kali saat dia sedang meditasi
datang menggerogoti pakaiannya yang disiapkan sebagai pengganti itu,
sejak dulu dia telah bersumpah seumur hidup akan menaati disiplin,
pantang membunuh makhluk hidup, oleh karenanya dia tidak mau melukai
tikus itu, namun dia tidak mempunyai cara untuk mengusir sang tikus,
maka dia kembali ke desa, meminta seekor kucing pada warga desa untuk
dipelihara.

Setelah mendapatkan kucing, dia lalu teringat: Harus makan apa kucing
itu? "Aku sama sekali tidak menginginkan kucing memakan tikus, namun
tidak mungkin sama sepertiku hanya makan buah dan tumbuhan liar kan!"
Lantas dia kembali meminta seekor sapi perah pada warga desa, dengan
demikian kucing itu dapat menyandarkan hidupnya pada air susu sapi itu.

Akan tetapi, setelah beberapa waktu tinggal di gunung, dia menyadari
bahwa setiap hari harus membuang banyak waktu untuk merawat dan
memberi makan rumput pada sapi betina itu, dia lalu kembali lagi ke
desa, menemukan seorang gelandangan miskin, kemudian membawa
gelandangan yang tidak mempunyai tempat tinggal ini ke gunung,
memberinya tugas merawat sapi perah.

Setelah gelandangan ini tinggal beberapa waktu di gunung, dia berkeluh
kesah pada si pencari spiritual : "Saya dan Anda tidak sama, saya
membutuhkan seorang istri, saya ingin kehidupan keluarga yang normal."
si pencari spiritual ini merenungi ada benarnya juga yang dikatakan
oleh si gelandangan itu, dia tidak boleh memaksa orang lain harus sama
seperti dirinya, melewati hidup menempa diri menahan nafsu.

Demikianlah kisah ini terus berkembang, dan Anda mungkin telah
mengetahuinya, yang mana pada akhirnya, mungkin setelah setengah tahun
kemudian, segenap warga desa semuanya telah pindah ke gunung. Ini
sebenarnya kisah yang persis terjadi pada kita setiap orang. Nafsu
atau keinginan itu seperti sebuah rantai, saling bertautan, selamanya
tidak dapat mencukupi........

Orang yang Mati Karena Perasaannya

(Erabaru.or.id) - Sebuah perusahaan kereta api mempunyai seorang
karyawan bernama Nick, dia sangat serius dengan pekerjaannnya, juga
penuh tanggung jawab dalam bekerja, namun dia mempunyai sebuah
kekurangan yaitu dia sangat pesimis terhadap kehidupan, sering kali
berpikir negatif dalam memandang dunia ini.

Pada suatu hari semua karyawan perusahaan tersebut bergegas untuk
memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada bosnya, semuanya telah
pergi agak awal dengan tergesa-gesa. Malangnya, Nick tanpa sengaja
terkurung dalam sebuah lemari es besar di kereta. Nick dengan sekuat
tenaga terus mengetuk lemari es dan berteriak, malangnya semua
karyawan perusahaan itu telah pergi, sama sekali tidak ada orang yang
bisa mendengarnya.

Telapak tangan Nick sampai merah dan bengkak mengetuknya, dan
kerongkongannya menjadi serak dan kering, namun tidak ada juga orang
yang memperhatikannya, akhirnya ia hanya bisa kesal duduk di atas
lantai lemari es meredakan napasnya. Semakin dipikirkan dia semakin
takut, dalam hati berpikir: suhu lemari es hanya 0 F, jika tidak
keluar juga, pasti bisa mati kedinginan dan kehabisan udara didalam.
Lalu mau tidak mau dia dengan tangan yang gemetar, mencari pulpen dan
kertas, untuk menulis surat wasiat. Pada hari kedua di waktu pagi,
karyawan perusahaan mulai berdatangan masuk kerja. Mereka membuka
lemari es, dan secara mengejutkan menemukan Nick jatuh pingsan di atas
lantai. Saat mereka akan membawa Nick untuk diberikan pertolongan
darurat, sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi.

Saat lemari es diperiksa, semuanya menjadi sangat terkejut, karena
power pendingin lemari es tidak diaktifkan (lemari es tidak
dinyalakan), lemari es raksasa ini juga memiliki oksigen yang cukup,
yang lebih membuat orang merasa heran adalah, suhu dalam lemari hanya
berkisar 61 F, namun di luar dugaan Nick menjadi mati (kedinginan)!

Sebenarnya, semangat barulah sumber kekuatan, yang benar-benar
mengalahkan diri kita hanya perasaan kita sendiri. Apabila tekad telah
hilang, berarti segalanya juga tiada lagi.

Kisah Nyata: Kebesaran Jiwa Seorang Ibu

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan gue udeh lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic.

Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah di promosikan ke posisi manager. Gaji-nya pun lumayan.

Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.

Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be.

Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali).

Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan dirumah. Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.

Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. ” Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”.

Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja kesupermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini kedalam media cetak dan elektronik.

Ketika membaca kisah ini dimedia cetak, saya sempat menangis karena tidak sempat bersujud di hadapan Mamaku. Mamaku telah meninggal 3 th lebih saat itu.

Teman2 yang masih punya Ibu di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya, sampaikan terima kasihmu yang paling dalam dan tulus. Ya, selagi masih ada waktu…..!

Sebelum Kamu Menceraikanku, Gendonglah Aku

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti
didepan flat kami yang cuma berkamar satu.
Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari
mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.
Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat
bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.
Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air
bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha
dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran
meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah
pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai
dirumah juga
pada waktu yang bersamaan.
Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan
yang tidak kusangka-sangka. Dew hadir dalam kehidupanku. Waktu itu
adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang
merangkulku. Hatiku
Sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang
kubelikan untuknya.
Dew berkata , “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.”
Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu,begitu sukses,akan
menjadi sangat menarik bagi para gadis.”
Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah
menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku
melepaskan tangan Dew dan berkata, “Kamu harus pergi membeli
beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor”
Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.
Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku
walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat
sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun
ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri
yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk
santai didepan TV. Makan malam segera tersedia.
Lalu kami akan menonton TV sama-sama.Atau aku akan menghidupkan
komputer,membayangk an tubuh Dew.Ini adalah hiburan bagiku.
Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai,
apa yang akan kau lakukan? ”
Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia
percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya.
Ketika istriku mengunjungi kantorku,Dew baru saja keluar dari ruanganku.
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati
dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu
selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha
tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan
di matanya. Sekali lagi, Dew berkata padaku,” He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu
kita akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh
ragu-ragu lagi.Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku
pegang
tangannya,” Ada sesuatu yang harus kukatakan”
Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka
dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa.
“Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.
Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah.
Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki-laki!”.
Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis.
Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian
dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku.
Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.
Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup
bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku.
Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak
pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu
pembebasan untukku.
Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis.
Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya.
Ia tidakmenginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu
sebulan
sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup
bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana:
Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya
adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran
rumah tangga kami.Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,”
He Ning, apakah
kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari
pernikahan kita?”
Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah
kepadaku.Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku
dilenganmu”,katanya, “Jadi aku
punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetapmembopongku pada waktu
perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulanIni, setiap pagi kamu
harus membopongku
keluar dari kamar tidur ke pintu.Aku memberitahukan Dew soal
syarat-syarat perceraian dari istriku.
Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik
yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,”
ia mencemooh. Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak
kukatakanperceraian itu. Jadi ketika akumembopongnya dihari pertama,
kami kelihatan
salah tingkah. Dari kamar tidur ke ruangduduk, lalu ke pintu, aku
berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku.Ia memejamkan mata dan
berkata dengan lembut,”
Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita.”
Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu.
Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami
begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku
menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita
ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.
Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar,
hati-hati kalau kamu lewat sana .”
Hari keempat,ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih
mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku
dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar.
Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,
seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika,
aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk.
Perasaan kedekatan terasa semakin erat.
Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk
membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa
menemukan yang cocok.
Lalu ia melihat,”Semua pakaianku kebesaran”.
Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus
itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan
aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam
hati. Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit
Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut.
“Pa,sudah waktunya membopong mama keluar”
Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi
bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya
dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut
aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia
dilenganku,berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras.
Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya
dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia
kelihatan agak
pucat dan kurus, membuatku sedih.
Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah
dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata,
“Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”.
Aku memeluknya dengan kuat dan berkata
“Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.
Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut
keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.
Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, Aku tidak ingin
bercerai. Aku serius”. Ia melihat kepadaku, kaget.
“Maaf, Dew,Aku cuma bisa bilangmaaf padamu,Aku tidak ingin bercerai.
Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa
merasakan nilai-nilai
dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai
lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia
telah melahirkan anakku.
Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”
Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku
dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.
Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati
sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.
Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?
Aku tersenyum, dan menulis ” Aku akan membopongmu setiap pagi
sampai kita tua…”

Kisah tentang filial piety – bakti yang luar biasa :

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun
yang bernama Luke.
Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang
bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat, pada setiap
pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan.
Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan
memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan
kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan
berjalan  seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya
berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun.
Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena
mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah
berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang
biasa dilakukannya pada malam hari.

“Aku tidak akan menikah lagi,” kata Sherri kepada  ibunya.
“Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia.” tambahnya lagi.

“Kamu tidak perlu menyakinkanku, “  sahut ibunya sambil tersenyum.
Ia adalah seorang janda dan selalu  memberikan nasihat yang dapat membuat
Sherri merasa nyaman.

“Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang
sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya.
Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan
untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya. ”

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian.  Ibunya pindah untuk tinggal
bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi
anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap
optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha
menjadi seorang ayah bagi Luke.

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan
bersorak-sorai untuk  memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya
bermain beberapa menit saja.

Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri.

“Pelatih”, panggilnya. “Bisakah aku bermain dalam pertandingan
ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?”

Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama
antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola
dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum
tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras
dalam beberapa hari ini.

“Tentu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi
merah Luke.
“Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu.”

Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain.
Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan
mencetak dua single.
Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya
berhasil memenangkan pertandingan.

Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke
bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir
lapangan.
“Pertandingan yang sangat mengagumkan, ” katanya kepada Luke.
“Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa
yang membuatmu jadi begini?”

Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air
mata kebahagiaan.
Luke menangis tersedu-sedu.
Sambil sesunggukan, ia berkata “Pelatih, ayahku sudah lama sekali
meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak
dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,……Ibuku
meninggal.”

Luke kembali menangis.

Kemudian Luke dengan tegar menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya
dengan terbata-bata.
“Hari ini,…….hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari
surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama  melihatku bermain. Dan
aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka…… .”. Luke kembali
menangis terisak-isak.

Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan
mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini.
Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak
mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis.

Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya
sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih,
tetapi sebagai seorang anak…..

Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini,
ia belajar banyak dari  Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha
melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya
sudah pergi selamanya.

Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. …

Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat
itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan
mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka.

Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur
hidupnya…. ……… ..

# Luke, saat itu berumur 7 tahun dan sudah mempunyai rasa bakti pada orang tua
yang luar biasa. Meskipun orang tuanya tidak berada di sisinya lagi, tapi Luke
tetap berusaha  yang terbaik untuk membuat orang tuanya bangga. Bagaimana
dengan kita.. ?!? #

(Disadur oleh penulis dari berbagai sumber dan ditulis kembali dengan gaya
bahasa yang lain. Isi cerita tidak berubah dari kenyataan aslinya.)

BIARKAN MENGALIR SEPERTI AIR………

Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, “Guru, saya sudah bosan
hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau.
Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati.” Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit.” “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu
sebabnya saya ingin mati.” Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu sakit.
Dan penyakitmu itu bernama, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap
kehidupan.” Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa
disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita
menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut
mengalir.  Itu sebabnya kita  jatuh sakit.  Kita mengundang penyakit.
Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha, pasti  ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil
itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi
dalam hidup  ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin
mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita. “Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin
sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” kata sang Guru. “Tidak Guru, tidak. Saya sudah  betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin
hidup.” Pria itu menolak tawaran sang Guru. “Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?” “Ya, memang saya sudah bosan hidup.” “Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini.
Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau
minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan
tenang.” Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia
datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang
satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun.
Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan
senang hati. Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang
disebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak
pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu  santai! Tinggal  1
malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam
masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran
Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir.
Ini adlaah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil
makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum  tidur, ia
mencium bibir istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu.”  Sekali
lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin  meninggalkan
kenangan manis! Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar.
Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan
pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih
tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir
kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah
pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa
aneh sekali,  “Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku
salah. Maafkan aku, sayang.” Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya
pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung
berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir,
ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di
sekitarnya berubah.  Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai
terhadap  pendapat-pendapat  yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia
mulai  menikmatinya. Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di
beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya,
“Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan
kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua.
Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami.” Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi
sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana
dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya? Ia mendatangi  sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru
langsung  mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya
air  biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian,  apabila kau
hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau
akan menikmati setiap detik kehidupan.  Leburkan egomu, keangkuhanmu,
kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai
kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan  bosan. Kau akan merasa  hidup.
Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju
ketenangan.” Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke
rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih
mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah  sebabnya,
ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP! Have a positive day! Salam Inspirasi,