Minggu, 16 Juni 2013

Penjual Kebab Sumbangkan Keuntungan kepada Penduduk Miskin di Guizhou

SAMBUTAN istimewa diberikan kepada Alimjan Halik kendati pria itu cuma berprofesi

sebagai penjual kebab.

Tapi ketika dia mendarat di Urumqi, ibukota wilayah otonomi Uighur Xianjiang,

pria tadi disambut bak seorang pahlawan yang sedang pulang.

Lebih dikenal dengan panggilan Alim, pria berusia 40 tahun tersebut telah

terpilih sebagai “Cyberspace Personality Who Moved the Hearts of the Chinese in

2010? atas bantuannya selama sedekade kepada masyarakat miskin.

Selama periode itu, dia menyumbangkan hampir semua keuntungannya — lebih 100.000

yuan (15.000 dolar) — dari usaha jual kebab sederhana di Bijie, propinsi Guizhou.

“Bijie merupakan kampung halaman saya yang kedua,” tutur warga kelahiran Xinjiang

tadi seraya menyunggingkan senyuman merendah. “Ketika sedang dalam keadaan

tersulit di tahun 2000, seorang pria tak dikenal sama sekali di Bijie memberi

saya uang sebesar 100 yuan dan membantu saya mengatasi kesulitan.”

Sejak itu dia membalas kebaikan tersebut, dengan sering memberikan makanan kebab

daging kambing.

Dilahirkan dari sebuah keluarga miskin enam bersaudara, Alim meninggalkan kampung

halamannya untuk mencari penghidupan pada tahun 1997 dengan berjualan panggang

kebab.

Berkelana

Dalam tiga tahun kemudian, dia mengalami kesulitan hidup sehingga memaksanya

berkelana ke seantero China sebelum tiba di Bijie.

“Saat paling berat yang saya alami terjadi pada suatu malam dalam musim panas di

Guangxi. Saya tak punya uang dan terpaksa tidur di kakilima. Ketika terbangun

paginya, kedua sepatu saya sudah dicuri orang. Saya terpaksa memakan sisa-sisa

makanan di tong-tong sampah untuk mengusir rasa lapar,” papar Alim.

Tapi di Bijie, seseorang mengulurkan tangan dan memberinya bantuan.

“Saya merasa Bijie adalah tempat terbaik bagi saya. Orang-orang di sini baik hati

dan tidak menipu orang tak dikenal,” imbuh Alim.

Karena kota itu mendapat tempat dalam hati Alim, warganya mulai menyukai citarasa

kebab kambing yang dia jual.

“Mereka seakan tidak dapat hidup tanpa kebab saya,” ucap Alim setengah bergurau.

Selama Festival Musim Semi (Imlek) tahun 2005, dia menjual lebih 7.000 porsi

sehari.

Namun dia jarang menggunakan uang hasil penjualan kebabnya untuk diri sendiri.

Dia justru lebih suka menyantap makanan sederhana berupa mie dan roti, kadangkala

sisa kebab. Dia tinggal di sebuah kamar sewa dalam sebuah rumah agak kumuh, kedua

sepatu kulitnya diselamatkan dari sebuah tong sampah.

Bantu

Dalam kurun waktu sedekade terakhir, Alim telah membantu lebih 200 siswa dari

keluarga-keluarga miskin, dan 10 dari mereka telah melanjutkan pendidikan ke

bangku perguruan tinggi.

“Pada mulanya, keluarga saya berpikir saya sudah gila karena menyumbangkan semua

penghasilan saya kepada orang tak dikenal. Namun setelah mengetahui pengalaman

saya di Bijie, mereka akhirnya jadi mendukung saya,” papar Alim.

Di antara orang-orang yang dia telah bantu, Alim teringat pada Zhou Yong, yang

bersamanya dia telah menjalin ikatan semacam keluarga.

Alim pertama kali bertemu dengan Zhou pada musim dingin 2003 di sebuah rumah

sakit lokal. Zhou, ketika itu berusia 11 tahun, kurus dan kecil dikarenakan

penyakit ginjal jangka panjang, sedang belajar di tempat tidur.

Alim yang sangat terkejut melihat kesehatan buruk Zhou, memberikan semua uang

yang ada dalam sakunya kepada kedua orangtua Zhou, seraya mengimbau koran-koran

setempat agar membantu anak tadi.

Berkat bantuan yang digalang Alim, Zhou menerima dana dan bantuan memadai untuk

berobat dan dia sembuh tiga bulan kemudian.

Selama pengobatan itu, Alim sering membezuk Zhou dan memberinya dorongan

semangat.

Untuk membantu keluarga tersebut dengan keuangan, Alim menggaji ibu Zhou untuk

membantunya pada masa puncak musim kebab.

Beasiswa

Alim juga telah membuat dua beasiswa di dua universitas di Guizhou.

“Saya bicara pada media untuk tidak jadi selebriti. Saya berharap melalui media

kiranya makin banyak memberikan perhatian kepada pendidikan masyarakat miskin dan

menawarkan bantuan apa saja yang mereka bisa berikan,” papar Alim.

Pria itu mengaku bahagia dikaruniai kehidupan yang mudah dan membantu orang lain.

Dia punya dua rencana pada tahun-tahun mendatang: menikah dan mendapatkan uang

memadai untuk membantu sebuah sekolah buat masyarakat miskin.

“Saya akan mencoba sekuat tenaga untuk mendapatkan penghasilan 500.000 yuan dalam

lima tahun ke depan dan mengelola sebuah sekolah untuk anak-anak yang orangtuanya

merantau ke kota-kota besar. Mereka membutuhkan bantuan kita,” ungkap Alim.

Pahlawan

Kembali ke kampung halamannya, Alim jadi seorang pahlawan dan suatu inspirasi

bagi banyak orang di antara penduduk daerahnya untuk mengikuti jejaknya.

Mendengar kabar bahwa dia mudik untuk turut merayakan Imlek bersama ibu dan

adik-adik perempuannya belum lama ini, banyak penduduk lokal berkumpul di bandara

untuk menyambut pria berbudi luhur dan dermawan tadi.

Sebagian dari mereka bahkan membawakan masakan khas Xianjiang yang berpenduduk

mayoritas Muslim — bun daging kambing panggang.

“Alim adalah pria baik hati dari Xinjiang,” ungkap Zhang Chunxian, sekretaris

Partai dari daerah otonom Uighur Xinjiang. (cd/bh)

0 komentar:

Posting Komentar